Cerita Perjalanan dari Kota Pekanbaru ke kota Jambi Pakai Sepeda Motor


Setelah urusan atur mengatur penjadwalan seminar proposal penelitian di kampus selesai, kini titik terang jadwal  keberangkatan menuju kota Jambi dari Pekanbaru telah saya dapatkan.

Sejak akhir November 2019 saya sudah berencana ingin berangkat ke kota Jambi. Tujuannya adalah menghadiri acara wisuda adik saya yang bernama Risnawati di Universitas Islam Negeri Sultan Thaha Saifuddin Jambi. Acara wisuda tersebuat akan dilaksanakan pada tanggal 19 Desember 2019.

Rencana berangkat tersebut hampir saja saya batalkan karena ada hal penting yg harus saya selesaikan terlebih dahulu. Hal penting tersebut adalah masalah seminar proposal saya yang belum fix sedangkan deadline untuk saya semakin dekat.

Tentu saja saya tak ingin menunda lagi karena sebelumnya sudah satu semester saya lalaikan hanya untuk maju seminar saja. Kalau saya tunda lagi kemungkinan drop out di kampus semakin tinggi mengingat saya yg sudah berada di semester kematian ujung (semester 13)

Beberapa hari setelah mengurus ini dan itu, memaksimalkan waktu yg ada, akhirnya masalah ini selesai. Kemudian setelah urusan di kampus selesai, saya langsung mengatur jadwal keberangkatan menuju Provinsi Jambi.

Waktu itu sudah tanggal 16 Desember 2019. Saya menghubungi keluarga di desa pebenaan ( kampung halaman saya ) untuk menyampaika informasi bahwa saya jadi berangkat ke kota Jambi.

Setelah menimbang beberapa kemungkinan , Pada keputusan akhirnya saya akan berangkat ke kota jambi pada tanggal 18 Desember 2019 menggunakan sepeda motor Jupiter MX yang saya punya, sedangkan keluarga di kampung berangkat pada tanggal yg sama namun menggunakan pancung (Pancung adalah kendaraan air yang sering digunakan oleh masyarakat Indragiri Hilir)  dari kampung menuju Kuala Tungkal. Dari Kuala Tungkal baru menggunakan mobil ke kota Jambi.

Saya memutuskan tidak menggunakan mobil karena menimbang beberapa hal.

Pertama: saya tak tahan naik mobil. Saya termasuk golongan pemabuk yang sangat parah kalau sudah berada di dalam mobil saat perjalanan. Sedangkan menggunakan sepeda motor saya sanggup melakukan perjalanan berhari-hari.

Kedua: Kalau di berangkat pakai mobil saya merasa kurang bisa menikmati perjalanan dan tak bisa kemana-mana karena kondisi di poin pertama.

Hanya karena dua alasan tersebut yang membuat saya memutuskan untuk berangkat menggunakan sepeda motor menuju kota Jambi.

Lalu kenapa tidak berangkat tgl 17 saja ? Kan biar bisa lebih santai menikmati perjalanan.

Sebenarnya saya maunya berangkat tanggal 17 Desember waktu itu. Tetapi kenyataannya motor yangg saya punya belum saya servis. Rem belakang sedikit bermasalah seperti yang saya alami pada perjalanan berburu sunrise di puncak ulu kasok kabupaten Kampar.

Jadi saya servis motor terlebih dahulu, untuk memastikan bahwa perjalanan akan lebih aman dengan menggunakan sepeda motor.

Ternyata yang bermasalah adalah Master Rem nya yang goyang dan posisinya yang tidak stabil lagi. Menurut analisa tukang bengkel resmi Yamaha, master remnya harus diganti satu set, karena kalau di ganti hanya masternya maka permasalahan serupa akan muncul kembali dikemudian hari. 

Namun karena harga master rem belakang setahu saya cukup menguras dompet maka saya urungkan saja dulu. Akhirnya hanya di stel sementara agar bisa saya gunakan selama perjalanan menuju Kota Jambi.

Selain master rem belakang, karbu motor juga sedikit bermasalah karena ada bagian di dalamnya yang bocor. Tapi tidak sampai saya ganti juga karena harga nya mahal.

Esoknya, tepat di 18 Desember 2019 saya berangkat di Jam 09.15 wib. Cukup ngaret dibandingkan dg rencana yang saya buat. Awalnya ingin otw jam 07.00 tapi ya sudahlah, banyak keadaan tak terduga yang muncul mendadak.

Perjalanan dari Kota Pekanbaru ke Kota Jambi 

Seperti yang saya katakan pada paragraf di atas bahwa saya mulai berangkat dari kota pekanbaru sekitar Jam 09.15 wib. Singkat cerita setelah 90 menit perjalanan saya istirahat terlebih dahulu di Kabupaten Pelalawan.

Saya istirahat di dekat gerbang pelalawan. Letaknya di komplek perkantoran Dinas Pemerintahan  Kabupaten Pelalawan. Pelalawan ini adalah salah satu kabupaten yang ada di Provinsi Riau.

Tadinya saya berencana membuat sebuah vlog perjalanan. Tapi keadaan tak mendukung karena peralatan tempur tidak lengkap. Selain itu ketika di perjalanan juga kondisi hujan.

Tapi ada beberapa menit perjalanan yang sempat saya rekam, teman-teman bisa lihat di vidio pada akun youtube saya yang berjudul “Perjalanan dari Kota Pekanbaru ke Kota Jambi berapa Jam ? atau bisa lihat di link ini : 

Setelah cukup lama beristirahat di pelalawan, saya melanjutkan perjalanan sekitar jam 11.30 dan kembali beristirahat di SPBU Sorek sekitar Jam 13.00. Di Sorek saya mengisi minyak motor dan melaksanakan shalat zuhur. Kemudian beristirahat sampai menghabiskan 2 batang rokok. Baru kemudian lanjut lagi.

Dari sorek saya lanjut menuju Pematang Reba. Di Pematang Reba tepatnya 100 meter sebelum bundaran tugu ikan Patin saya kembali beristirahat untuk makan siang. Di Pematang Reba saya menghabiskan waktu hampir 1 Jam dan mulai berangkat kembali menuju Belilas sekitar Jam 15.00.

Perjalanan dari Pematang Reba menuju Belilas saya lakukan dengan santai. Hal ini saya lakukan karena saya memang belum pernah melalui jalur ini. Jadi sambil menikmati perjalanan dan menghafal jalan. Berharap ada hal unik yang bisa di jumpai. Perjalanan menuju Belilas hari itu ditemani oleh sinar matahari yang begitu terik.

Sesampainya di Belilas, saya kembali beristirahat dan mengisi minyak motor. Tidak lupa untuk singgah melaksanakan kewajiban sholat Ashar. Di belilas saya tidak istirahat begitu lama karena memang hari sudah sore dan perjalanan masih jauh. 

Selanjutnya saya menuju Selensen. Selensen adalah daerah yang berbatasan langsung dengan provinsi Jambi. Menurut teman-teman sekitar yang telah terbiasa ke kota jambi menggunakan sepeda motor jarak dari selensen ke kota jambi memakan waktu 3-4 Jam. Dan saat saya sampai di selensen Jam sudah menunjukkan pukul 17.30.

Perjalanan terberat dari selensen menuju kota Jambi ada di Siberida. Karena hampir memang jalannya turun naik, padat kendaraan berat dan jalannya bukan jalan aspal, melainkan jalan beton. Motor saya sudah pasti terasa berat di Kendarai.

Di selensen saya istirahat mengisi minyak. Kali ini saya istirahat cukup lama karena hari mulai gerismis dan turun hujan lebat setelah itu. Untung saja tidak begitu lama sehingga saya dapat melanjutkan perjalanan kembali.

Ketika hujan mulai reda saya melanjutkan lagi perjalanan pelan-pelan. Seingat saya laju kendaraan hanya mencapai 40 KM/Jam. Kadang kurang dari itu. 

Tidak jauh dari SPBU selensen saya melewati tugu Perbatasan Provinsi Riau dan Jambi. Seingat saya dulu ketika masih sekolah di Aliyah saya pernah jalan-jalan kesini. Itu sekitar 10 tahun silam. 

Saya tetap membawa kendaraan dengan pelan. Jalan menuju kota jambi ini banyak tikungan tajam dan dalamnya di tambah saat itu habis hujan. Saya juga merasa sedikit takut karena takut kepleset atau terjadi hal-hal tak terduga lainnya.

Satu hal lagi yang membuat saya sedikit gugup melewati jalan ini adalah karena banyak isu beredar bahwa banyak Bajing Lompat di Jalan. Ynag dimaksud bajing lompat disini adalah preman-preman yang menyetop pengendara dan memalak pengendara baik pengendara mobil maupun  pengendara motor.

Tapi ya, pura-pura tenang saja, meski jalanan sepi, kiri dan kanan hanya ada kebun sawit, pada akhirnya saya sampai dengan keadaan baik-baik saja.

Ketika hampir magrib, benar saja, di jalan ada ramai-ramai. Saya kira ada apa..ternyata ada mobil berat yang terperosok di salah satu tikungan. Dugaan saya mobil tersebur terperosok karena jalanan yang licin. Saya berhenti sebentar ikut mengantri, karena memang orang-orang tengah bergotong royong menarik mobil yang terperosok tersebut.

Setelah boleh lewat, saya terus melanjutkan perjalanan dengan hati-hati. Was-Was rasanya karena jalan sangat sepi. Sangat berbeda ketika melakukan perjalanan malam di lintas pekanbaru ke Inhil.

Was-Was saya hilang saat telah sampai di Merlung. Saya tiba di Merlung sebelum isya. Saya beristirahat disana dan makan malam di salah satu warung yang ada disana. Baju saya lembab karena di perjalanan tadi sempat hujan gerismis sepanjang jalan.

Di merlung saya menghubungi beberapa teman lalu bertanya perkiraan perjalanan dari merlung ke Jambi Kota berapa lama lagi. Ada yang mengatakan 2 Jam ada juga yang mengatakan 3 Jam. Adik saya sendiri mengatakan sekitar 3 Jam lagi.

Mendengar bahwa masih sekian Jam, saya hampir menciutkan diri untuk melanjutkan perjalanan malam itu. Rencana hendak lanjut besok pagi sajalah. Tapi teman saya berkata lanjut saja pelan-pelan.
Saya tanya balik, jalan aman kan ? Dia sampaikan bahwa jalan aman. Tidak ada hal-hal macam-macam. Jadi saya lanjut lagi dengan pelan menuju Kota Jambi malam itu.

Di perjalanan saya melewati beberapa daerah yang cukup terkenal bagi saya. Salah satunya adalah kuala Tungkal. Saya baru tahu bahwa orang yang menggunakan kendaraan air yang bernama Pancung pelabuhannya di daerah yang saya lewati tersebut.

Sekitar Jam 21.30 saya sampai di Daerah Muaro Jambi. Saya singgah lagi di SPBU untuk mengisi bahan bakar kendaraan saya. Saya sempat berbicara dengan bapak-bapak yang bekerja di SPBU tesebut. Bapak itu bertanya..

“Dari Pekanbaru Ya ?”
Saya lantas menjawab “Iya”, “Kok tau?” tambah saya.
“Itu Plat Motor BM” kata Bapak tersebut menjawab pertanyaan saya.
“Jam berapa berangkat dari Kota Pekanbaru ?” bapak itu kembali bertanya
“Jam 09.15 tadi pagi pak” jawab saya. “Kota Jambi berapa jauh lagi dari sini pak ?” saya bertanya kembali pada bapak tersebut.
“Sekitar 30 menitan” kata bapak tersebut
Saya cukup lega karena perjalanan tidak jauh lagi.
“Terima Kasih Pak” Saya mengakhiri pembicaraan dan melanjutkan kembali perjalanan.
Tidak terasa saya sudah berada di depan Gerbang yang bertuliskan “Selamat Datang di Kota Jambi”. Saya berhenti sebentar dan membuka maps alamat rumah adik saya. Setelah itu saya langsung menuju jembatan besar dan belok kiri menuju alamat yang di kirimkan ke saya oleh adik saya.

Sampai di wilayah kota Jambi saya sempat bingung dengan alamat yang dikirim. Saya lantas menghubungi salah satu teman saya untuk menjemput. Saat itu saya berhenti di tepi salah satu taman yang masih dalam proses pembangunan. Saya singgah di warung dekat kampus kedokteran dan memesan kopi sambil menunggu teman saya menjemput.

Jam sudah menunjukkan pukul 22.46 dan teman saya baru sampai ke lokasi saya. Kami ngopi dahulu. Setelah puas bercerita dan berbual dia mengantarkan saya menuju alamat adik saya. Saya sampai di Rumah Adik saya sekitar pukul 01.00 dini hari tanggal 19 Desember 2019. Alhamdulillah . . 

Pandangan Saya dalam Perjalanan Kali ini

  1. Menurut saya jalan menuju Kota Jambi dari Perbatasan Riau – Jambi jauh lebih sepi dari pada perjalanan dari Inhil ke Kota Pekanbaru pada malam hari.
  2. Kondisi jalan lintas dari Riau ke Jambi jauh lebih baik dari pada kondisi jalan lintas dari inhil ke Kota Pekanbaru.
  3. Rambu lalu lintas wilayah Jambi jauh lebih lengkap dari pada Provinsi Riau khususnya di Lintas.
  4. Tikungan-Tikungan jalan lintas menuju Jambi tidak lebih mendebarkan dari tikungan-tikungan jalan lintas menuju Sumatera Barat.
  5. Pembangunan Kota Pekanbaru jauh lebih maju dari ada Kota Jambi.
  6. Kota Pekanbaru lebih panas dari Kota Jambi.
  7. Jalan lintas ke Jambi adalah jalan yang aman. Namun sepi sekali dari rumah penduduk.
  8. Dan hal-hal lainnya.

Sekian cerita perjalanan saya dari Kota Pekanbaru menuju Kota Jambi yang saya lakukan pada 18 Desember 2019 yang lalu.

Jika ada yang bertanya perjalanan dari Kota Pekanbaru menuju Kota Jambi memakan waktu perjalanan seberapa lama ?, maka jawabannya secara normal 9-10 Jam perjalanan. Hal tersebut adalah estimasi menggunakan Google Maps. Dan perjalanan saya kali ini memakan waktu perjalanan hingga 13 Jam. Tentunya ini bukan perjalanan yang normal. Sekian dan terima kasih..

0 Response to "Cerita Perjalanan dari Kota Pekanbaru ke kota Jambi Pakai Sepeda Motor"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel