Perjalanan Ke Air Terjun Batu Dinding


Sahar.ID – Akhir pekan merupakan waktu terbaik untuk bersantai dan berlibur. Jika tidak ada kegiatan, hal yang paling umum terjadi adalah kita akan dilanda rasa bosan. Sama halnya dengan saya dan satu orang sahabat saya yang bernama Tri Astuti. Jauh-jauh hari dia sudah mengajak saya untuk berlibur di akhir pekan. Saya yang menentukan tempat tujuan dg syarat menuju wisata alam.  Yang pada akhirnya saya memutuskan berangkat ke air terjun batu dinding.

Air Terjun Batu Dinding merupakan salah satu destinasi alam yang ada di desa tanjung belit, lipat kain, kabupaten kampar Provinsi Riau. Jika dari kota Pekanbaru lokasinya tidak begitu jauh. Apabila kita menggunakan sepeda motor hanya akan memakan waktu lebih kurang 3 jam perjalanan.

Di Air terjun batu dinding kita tidak perlu risau dengan kendaraan. Karena kendaraan bisa di parkirkan di rumah warga terdekat. 

Untuk sampai di air terjun, Kita harus berjalan kaki dari tempat parkiran sekitar 30 menit. Trek perjalanan agak terjal. Jadi kita akan merasakan
sedikit sensasi menanjak meski hanya sebentar. Sebenarnya Jika jalan sedang kering dan kendaraan memungkinkan, kita juga bisa langsung membawa kendaraan sampai di ujung jalan tanpa harus lelah berjalan kaki. 

Saya rasa berjalan kaki lebih nikmat !!

Setiap orang yang ingin berkunjung ke destinasi wisata air terjun batu dinding akan di kenakan biaya masuk sebesar Rp.5000 dan biaya parkir sebesar Rp.3000 dan kita bayarkan kepada warga yang sudah bertugas di tempat parkiran.

Perjalanan Saya Menuju Air Terjun Batu Dinding (03 November 2019)

Awalnya saya tidak ingin ke air tejun batu dinding. Beberapa Hari sebelum berangkat saya berencana menuju rokan hulu tepatnya di Air Terjun Aek Matoa. Saya cukup penasaran dengan destinasi itu. Kami berencana ingin berangkat jam 07.00 pagi, tapi apalah daya, saya baru bangun tidur pada jam 09.00 pagi. Dan sudah pasti kami akan berangkat 1 jam setelahnya.

Setelah menimbang-nimbang bahwa jarak ke rokan hulu cukup jauh, Saya juga belum tahu persis dimana lokasi dan bagaimana medannya, di tambah sudah pasti akan pulang malam, maka saya batalkan untuk ke negeri seribu suluk rokan hulu. Dan Seperti pada paragraf pembuka di atas, pada akhirnya kami berangkat ke air terjun batu dinding.

Ada 4 alasan mengapa saya putuskan ke air terjun batu dinding saja dan tidak memilih destinasi lainnya.
  • Karena saya sudah pernah kesana pada tahun 2015. 
  • Jaraknya tidak terlalu jauh,
  • Sedikit banyak saya sudah tahu bagaimana medannya.
  • Ada teman beserta rombongan yang juga sedang berada di sana dalam acara makrab.
Sekitar jam 10.00 lewat banyak, kami baru mulai berangkat menuju Desa Tanjung Belit. Saat itu belum sempat sarapan dan lain-lain.

Perjalanan awal kami santai-santai dan biasa-biasa saja. Tidak ada hal-hal luar biasa yang terjadi. Hampir separuh perjalanan Saya sempat salah ambil belokan. Seharusnya belok kanan saya malah ambil jalur ke kiri. Tapi tidak sampai 5 menit saya cepat-cepat tobat dan kembali ke jalur yang benar kembali memutar dan mengambil arah yang tepat.

2 Jam perjalanan berlalu, perut saya mulai lapar, begitu juga dengan sahabat saya Tri Astuti. Sudah hampir jam satu siang. Kami singgah di salah satu Rumah makan yang ada di pinggir jalan dekat persimpangan.

Selesai makan siang kami melanjutkan kembali perjalanan menuju desa tanjung belit. Tidak sampai 1 Jam kami tiba di desa tanjung belit, lalu kemudian langsung menuju halaman rumah warga yang telah disediakan untuk memarkirkan motor pengunjung. Di halaman rumah warga tersebut kami juga kemudian  mengurus administrasi kunjungan.

Saya bertemu dengan beberapa orang teman saya yang sedang beristirahat di halaman rumah warga. Dia sedang istirahat dan menunggu teman lain yang satu rombongan. Rombongan mereka adalah rombongan makrab yang sudah saya singgung pada paragraf awal di atas.

Setelah siap semua persiapan, saya dan Tri melanjutkan perjalanan ke air terjun batu dinding dengan jalan kaki. Beberapa tanjakan terjal dan pohon di kiri dan kanan jalan kami lewati. Tidak lupa mengambil gambar untuk dokumentasi perjalanan.



Sampai di ujung jalan ternyata sedang ada pembangunan jembatan. Jembatan yang sedang di bangun sedang dikerjakan oleh satu orang pekerja. Tanpa ragu-ragu kami menyeberang melewati jalan di sebelah pak tukang yang sedang bekerja.



Saat itu sudah terdengar suara gemericik air terjun. Kami meneruskan langkah sampai menemukan satu lagi tanjakan yang cukup terjal. Baru separuh berjalan di tanjakan ini kami beristirahat sejenak.


Setelah beristirahat sejenak, langkah kaki kembali kami gerakkan sampai pada puncak tanjakan. Disini saya mulai merasa bingung dan ada yang aneh. Suara air terjunnya sudah lewat. Tapi jalan ke depan masih panjang. Di depan juga tidak ada bekas-bekas orang habis lewat menggunakan jalan.

Saya merasa ragu untuk melanjutkan. Jangan-jangan salah jalan pikir saya dalam hati. Kami kembali ke tempat peristirahatan. Mencoba tenang dan berfikir lewat mana.


Tidak begitu ada 3 orang anak kecil yang juga sampai tak jauh dari kami. Lalu saya coba bertanya. Lah ternyata mereka juga baru kali ini kesana. Dan mereka juga terpisah dengan temannya yang lain. 

Ohh.. Ya Sudahlah..

Coba telpon dan tanya ke kawan mu tadi, kata tri  memberi pendapat. Hape saya keluarkan, dan saya hubungi teman saya yang sudah sampai di tempat parkiran. Ternyata benar kami salah jalan. 

Seharusnya kami lewat jalan setapak yang ada di bawah jembatan dan menelusuri sungai. Sedangkan yang sekarang kami mengikuti jalan besar yang menanjak. Tentu saja tidak ketemu.


Kami kembali turun, dan ternyata memang ada jalan setapak disana. Di jalan setapak ini sudah ada tangga dari batu-batu yang di susun hingga sampai ke area air terjun. Sangat jauh berbeda dari keadaan terakhir saat saya kesana.


Kami sampai di Air terjun pertama, tapi bukan yang ini yang jadi tujuan. Kami lanjut berjalan ke air terjun yang satu lagi. Air terjun yang pernah saya kunjungi di tahun 2015 lalu.

(Sahak)

Sampai di air terjun, ternyata sudah tidak ada lagi orang lain. Kami hanya berdua. Rombongan terakhir yang kami temui adalah orang-orang yang berselisihan dengan kami di tengah jalan tadi. Saya lihat Jam sudah menunjukkan pukul 3 sore. Kami mulai bergegas mengambil gambar.

(Tri Astuti)

Tidak lama setelah kami mengambil gambar, ada satu rombongan lain yang yang juga baru datang. Saya ketahui bahwa mereka adalah klub motor yang sedang turing. Kelihatannya sebaya SMA sederajat. Tetapi mereka tidak singgah di dekat kami. Mereka langsung menuju ke bagian yang lebih atas.Ternyata di bagian atas juga ada air terjun lainnya. 

Oh Sial, saya baru tahu . .

Karena hari sudah sore kami tidak lagi ke air terjun yang di tuju rombongan klub motor tadi. Jadi kami menikmati yang disini saja. Usai mengambil gambar saya langsung masuk kedalam kolam air terjun dan berenang menuju ke arah gemuruh air yang jatuh.



Di bagian air utama air terjun cukup dalam. Kaki saya tidak sampai untuk pijakan.Jadi saya harus berenang untuk menkmati kesegaran air. Ketika Saya asik berpegangan dengan batu di sekitar air terjun, ternyata tri hanya mandi di tepian air terjun. Sebatas mandi di area yang masih jejak dengan kaki. Ternyata dia tidak bisa berenang. Saya juga baru tahu hal ini.

Hari sudah semakin sore, kami juga sudah puas berendam dan menikmati kesegaran air terjun batu dinding.Jadi kami memutuskan untuk kembali. 

Saat berkemas-kemas, ternyata rombongan yang ke bagian atas tadi juga sudah mulai turun dan kembali. Kami sempat berjalan beriringan meski akhirnya saya persilahkan mereka duluan. Karena saya ingin santai-santai saja dalam berjalan.

Kami kembali melewati jalan arah balik menuju parkiran yang berada di halaman rumah warga desa tanjung belit. Sampai di parkiran, rombongan klub motor tadi masih ada dan tampak sedang beristirahat.

Saya dan Tri juga beristirahat sejenak sambil bersiap-siap. Sebelum pulang teman saya pergi ke kamar madi dulu. Sambil menunggu saya mengajak ngobrol sambil basa-basi kemudian bertanya-tanya kepada ibu pemilik rumah tempat kami parkir motor.

Di atas boleh Nge-camp ?

“Boleh” kata ibu itu, banyak kok yang mendirikan tenda di atas”, tambahnya

Kalau mau nge-camp di atas lapornya kemana buk ?, saya bertanya kembali.

“Ke pemuda atau disini juga bisa, lebih baik memberi tahu pihak-pihak atau warga sini. Mana tau ada apa-apa di atas kan bisa cepat di tanggapi”. Jelas ibuk itu.

Saya mengangguk tanda sependapat dengan ibuk itu.

Ibu itu mulai bicara lagi,

“Di atas kan ada 7 air terjun, Biasanya pengunjung mendirkan tenda di air tejun ke-empat karena di situ yang sedang ramai saat ini. Air terjunnya kembar”.

Sontak saya terkejut, saya tidak tahu kalau ada banyak air terjun di atas. Di dalam hati saya sejenak bertekad di lain waktu saya akan kembali ke Air terjun Batu Dinding dan harus sampai melihat ke-7 air terjun yang sempat disebutkan oleh ibuk ini.

Saya terus bertanya hal-hal lain sampai pada akhirnya teman saya Tri Astuti kembali dari kamar mandi. Belum puas rasanya saya bertanya, tapi apa mau di kata, hari sudah semakin petang. Kami pamit pulang.

0 Response to "Perjalanan Ke Air Terjun Batu Dinding"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel