Samudera Awan di Puncak Bukit Suligi

Pertengahan tahun 2018 saya berangkat menuju sebuah tempat yang sedang tenar di sosial media Instagram. Tempat tersebut adalah salah satu tempat wisata yang ada di Riau. Tempat yang saya maksud itu adalah tempat yang bernama Bukit Suligi, masyarakat membumingkannya di sosial media dengan tag line "Samudera awan di puncak bukit sulig" dan "Berani Ke Suligi Berani Jauh Cinta"

Keberangkatan menuju rokan hulu kala itu merupakan kali pertama bagi saya menginjakkan kaki di tanah 1000 suluk setelah sekian lama. Negeri 1000 suluk adalah julukan bagi kabupaten rokan hulu.


Saya berangkat ke Kabupaten Rokan Hulu bersama 4 teman saya. 3 orang adalah teman yang saya kenal sewaktu melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Kecamatan Peranap pada tahun 2017 dan 1 lagi adalah temannya teman KKN Saya. Ketiga teman KKN saya tersebut adalah Brian Kendaru, Paradila Pratiwi, dan Agung Prasetio sedangkan yang satu lagi adalah Nurul yang merupakan temannya Paradila. Jadi termasuk saya ada 5 orang yang berangkat dari Pekanbaru ke Rokan Hulu dengan niat menuju puncak bukit suligi. Secara tidak langsung Kami menyebut tim kami ini dengan nama "Trip Santai". Semboyan yang saya bawa di setiap perjalanan adalah  “The Power Of Nikmati Saja”.

Bukit suligi merupakan salah satu bukit yang ada di Provinsi Riau dan telah menjadi tempat wisata yang cukup terkenal. Destinasi ini sangat cocok bagi anda yang ingin mendaki di trek yang tidak terlalu panjang.  Lama pendakian agar sampai di puncak bukit suligi adalah 90 – 120 menit.

Meski tidak terlalu tinggi, bukan berarti anda tidak harus melakukan persiapan pendakian, terlebih jika pendaki pemula seperti tim kami. Tetap lakukan persiapan pendakian agar tidak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan.

Memang benar aktivitas pendakian menuju puncak bukit suligi hanya memakan waktu sekitar 2 Jam, tapi anda harus tetap berhati-hati karena jalur menuju puncak adalah jalur yang cukup sulit.

Untuk naik ke atas, beberapa trek harus dinaiki dengan menggunakan bantuan tali tambang.

Kenapa harus menggunakan tali tambang untuk naik ?

Jawabannya adalah karena tingkat kemiringan tanah untuk naik ke atas tidak memungkinkan untuk di lalui jika tidak menggunakan alat bantu seperti tali tambang. Bagi saya trek-trek  pendek yang mengugunakan tambang inilah yang paling menjadi pengalaman terbaik dalam perjalanan ke suligi kali ini. Trek tersebut pasti berhasil berhasil memicu adrenalin pendaki.

Destinasi wisata bukit suligi ini terletak di Desa Aliantan, Kecamatan Kabun, Kabupaten Rokan Hulu, Povinsi Riau. Suligi Hill atau bukit suligi ini di kelola dengan baik oleh pemerintah dan pemuda setempat sehingga tempat ini selalu terjaga keasriannya. Kaki puncaknya merupakan perkebunan karet dan sawit milik masyarakat.

Kami sampai di Aliantan sekitar pukul 14.30, kemudian sesuai intruksi dari informan yang kami hubungi sebelum berangkat bahwa kami harus menuju ke rumah kepala desa terlebih dahulu untuk berkumpul. Di rumah kepala desa aliantan kami kemudian singgah untuk beristirahat dan berkumpul.

Sambil istirahat, saya dan ke-4 teman saya (Team Trip Santai) sempat berbincang-bincang secara singkat dengan salah satu pemuda setempat, saya lupa nama pemuda tersebut. Tapi saya ingat sekali dia memamerkan vidio pemandangan indah dari atas puncak bukit suligi yang dia rekam sendiri.


Dari cerita pemuda tersebut bahwa sebelum berbentuk jalur seperti sekarang ini, awalnya mereka merintis jalur menuju puncak agar bisa dilalui oleh banyak orang, kemudian mendirikan tenda di puncak tertinggi. Mereka juga membuat area untuk mendirikan tenda di area perjalanan sebelum puncak. Di buatnya lokasi tenda di sebelum sampai puncak ini dikarenakan luas puncak tidak bisa menampung pendirian banyak tenda. Area tenda yang disediakan cukup luas dan tidak jauh dari puncak.

Di rumah kepala desa, oleh pemuda yang berbincang-bincang dengan kami memberitahukan bahwa pendakian baru akan dimulai setelah  dimulai setelah rombongan lain tiba. Rombongan yang dimaksud adalah rombongan yang juga sudah melakukan kontak dengan pemuda desa aliantan.



Yang menjadi pemandu jalan adalah beberapa pemuda desa aliantan. Sudah ada tim tersendiri yang bertugas sebagai pemandu pengunjung. Cukup lama kami beristirahat di rumah kepala desa sembari menunggu rombongan lain tiba. Sempat merasa bosan karena kami datang terlalu cepat dan pengunjung lain tidak jelas keberadaanya.

Biaya yang kami keluarkan untuk registrasi per-orang/kepala saat menjadi pengunjung ke pendakian bukit suligi adalah sebesar Rp.50.000,-. Biaya ini sudah termasuk tenda yang disediakan, makan malam, cemilan dan minuman kopi saat perjalanan (Ala Kadarnya). Saya merekomendasikan kepada anda untuk membawa tenda sendiri ke tempat ini agar lebih leluasa. Kami juga membawa dua buah tenda pada saat itu.



Kami mulai naik sekitar jam 09.00 malam dan sampai di tempat pendirian tenda jam 23.00. Perjalanan kami pada malam itu sedang dalam keadaan hujan. Trek jadi semakin licin dan sudah pasti menambah kesulitan perjalanan. Tapi yah, bagi saya, itulah kenikmatan tak terduganya.


Di area pendirian tenda dan dalam kondisi Cuaca yang masih dalam keadaan sedang hujan,  kami membuat dan mulai menyeduh kopi dengan santai sambil menikmati susana malam itu.


Setelah ngopi santai kami tidur disana hingga menjelang sunrise tiba. Karena ingin melihat samudera awan yang ada di puncak bukit suligi seperti yang di buming-bumingkan di sosial media.

Sepengatahuan saya waktu terbaik untuk melihat samudera awan adalah di saat matahari sebelum terbit dan akan terbenam. Begitu pula di suligi hill ini (begitu kesimpulan saya).


Kali ini kami bangun lebih awal. Karena takut tidak dapat menikmati keindahan terbitnya matahari. Hal ini adalah  pembelajaran dari pengalaman saya sebelumnya ketika  mendaki di Puncak Gunung marapi sumatera barat dan ketinggalan sunrise disebabkan bangun terlambat.


Dari tempat pendakian jarak ke puncak suligi hanya memakan waktu sekitar 15 menit. Meski dekat jalur nya tetap saja menantang adrenalin.

Sampai di puncak kami beristirahat sebentar sembari menunggu momen sunrise tiba dengan harapan besar bertemu juga dengan keindahan samudera awan yang bersamaan dengan matahari terbit.

Akan tetapi alam memeng tidak bisa di tebak, lain harapan lain juga yang kami dapakan. Ketika sunrise muncul hingga matahari benar-benar berkilau kami tidak mendapatkan suasana samudera awan.



Menurut hemat saya hal ini mungkin dikarenakan hujan tadi malam yang cukup lama dan deras sehingga samudera awan yang muncul pagi itu sangat berkurang. Jujur saja ada sedikit kecewa yang muncul. Ya, tapi mau bagaimana lagi. Dalam kondisi inilah slogan yang saya percaya untuk menghibur diri “Nikmati Saja” berlaku.

Untung saja saat sunrise tiba kami sudah sempat berfoto ria mengambil panorama terbaik yang dapat di dokumentasikan.


Hari sudah mulai siang, Puas berfoto-foto kami turun kembali menuju tempat tenda didirikan. Bongkar tenda, bersih-bersih sampah dan berkemas-kemas lainnya. Selesai dari kegiatan berkemas-kemas tersebut kami turun menuju pemukiman kembali. Kemudian kami pulang ke kota pekanbaru.


Dalam Separuh perjalanan turun kami tidak melewati jalur yang sama ketika naik. Bukan karena tersasar, akan tetapi karena memang pemandu yang mengarahkan kami. Mereka membawa kami ke sebuah destinasi lain yaitu sebuah Air Terjun. Cocok sekali untuk melepaskan lelah  yang sudah terlihat jelas di mata sayup kami setelah perjalanan. Nama air terjun tersebut adalah air terjun sikubin.

Akhir kata, memang tidak ada Samudera awan yang saya dan kawan-kawan saya jumpai pagi itu. Tidak seperti pemandangan-pemandangan samudera awan yang dilihat pengunjung lainnya.

Akan tetapi kesenangan tetaplah kesenangan. Hal-hal tak terduga yang sempat kami dapatkan dan segala hal yang di luar expektasi kami adalah kenangan yang tetap harus kami nikmati dengan penuh.


Satu hal yang paling berkesan dibenak saya adalah trek pendakian menuju puncak yang berhasil memacu adrenalin dan memacu semangat yang menggebu. Bagi penikmat tantangan dihutan tidak ada yang lebih menyenangkan dari sensasi yang demikian. Selain itu sesekali saya terkenang hempasan air terjun sikubin yang menyegarkan mata saya dari rasa kantuk berat.


Pekanbaru, 10-09-2019, Sedang mengenang perjalanan ke puncak suligi bersama Tim “Trip Santai”. Thanks To Brian Kendaru, Nurul Arfah, Paradila dan Agung Prasetio. 
Salam “The Power of Nikmati Saja”

2 Responses to "Samudera Awan di Puncak Bukit Suligi"

  1. Waah! Worth to try nih! Ada tempat hiking menantang di Rohul. Btw, untuk naik ke puncak ada guide nya kah bang?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada Mbak, Guide nya itu pemuda sadar wisata di desa aliantan. Kalau gak salah ingat mereka pake akun instagram @tctaker,

      Delete

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel